Kilasfaktaterkini.com|PONTIANAK — Senin,19 Mei 2025|Kota Pontianak kembali menjadi panggung kebudayaan melalui gelaran Festival Budaya Creative 2025 yang diselenggarakan oleh Laskar Foundation Pemuda Kreatif (LPK) pada 15–21 Juni 2025 di kawasan Jalan Diponegoro. Festival ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni dan budaya, tetapi juga menjadi sarana promosi ekonomi kreatif lokal, khususnya sektor kuliner khas Pontianak dan Kalimantan Barat.
Dengan mengusung semangat pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kerakyatan, acara ini dirancang sebagai kolaborasi antara pelaku seni, penggiat budaya, pelaku UMKM, serta pemerintah daerah. Ribuan pengunjung memadati lokasi selama sepekan penuh festival berlangsung.
Salah satu daya tarik utama Festival Budaya Creative 2025 adalah hadirnya puluhan UMKM kuliner lokal yang menampilkan cita rasa otentik khas Kalimantan Barat. Deretan stan kuliner menyuguhkan beragam makanan tradisional, antara lain:
Temet Kapuas Hulu — Hidangan khas dari wilayah Kapuas Hulu yang berbahan dasar hasil fermentasi singkong dan disajikan dengan kuah kacang pedas manis. Makanan ini menawarkan rasa unik yang menggabungkan keasaman alami dengan kekayaan rempah lokal.
Pengkang — Olahan ketan isi ikan yang dibungkus daun pisang dan dipanggang. Aromanya yang khas serta rasa gurihnya menjadikan pengkang sebagai salah satu kudapan favorit masyarakat.
Choipan — Pangsit kukus berisi campuran udang dan sayuran, disajikan dengan sambal kacang. Camilan ini menggambarkan akulturasi budaya Tionghoa-Melayu yang telah lama menjadi bagian dari identitas kuliner Pontianak.
Kue Batang Burok — Kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan kelapa parut yang diolah secara manual. Tekstur lembut dan rasa manisnya menghadirkan nostalgia kuliner masa lampau.
Keberadaan UMKM kuliner ini bukan hanya memperkaya pengalaman pengunjung, tetapi juga menjadi wadah konkret pemberdayaan ekonomi lokal.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, dalam sambutannya menegaskan bahwa pemerintah kota terus berkomitmen memperkuat sektor UMKM, khususnya kuliner tradisional. Ia menyampaikan bahwa regulasi yang bersifat mempermudah perizinan usaha serta penyediaan sarana pendukung, seperti gerobak dan akses ke sentra perdagangan, menjadi fokus utama kebijakan pemerintah daerah.
“Kami ingin agar pelaku UMKM di Pontianak dapat tumbuh dan berdaya saing, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional. Festival seperti ini adalah etalase yang baik untuk memperkenalkan potensi mereka,” ujar Edi.
Festival Budaya Creative 2025 juga menghadirkan berbagai pertunjukan budaya, antara lain:
Tenun Corak Insang — Warisan tekstil tradisional yang menggambarkan motif kehidupan air, mencerminkan kedekatan masyarakat Pontianak dengan Sungai Kapuas. Tenun ini ditampilkan dalam bentuk busana, kain bentang, hingga pertunjukan peragaan.
Arakan Pengantin — Replika prosesi pernikahan adat Melayu yang dikemas dalam bentuk teatrikal dan musik tanjidor. Upacara ini menyimbolkan penghormatan terhadap leluhur serta ketaatan terhadap nilai adat.
Berbagai sanggar seni dan komunitas budaya lokal diberikan ruang tampil dalam festival ini. Menurut panitia, lebih dari 200 seniman dan pelaku budaya terlibat langsung, mulai dari penari, pemusik, hingga pengrajin tradisional.
Ketua panitia festival, Ishak, dalam konferensi pers menyampaikan bahwa salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya lokal. Ia berharap anak-anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan mereka sendiri.
“Kita ingin agar budaya Melayu dan kekayaan kuliner Pontianak tidak hanya lestari, tetapi juga terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan zaman, tanpa kehilangan akar tradisinya,” ucap Ishak.
Ia menambahkan bahwa LPK sebagai penyelenggara berkomitmen menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan yang berkelanjutan, dengan jangkauan yang lebih luas di masa mendatang.
Festival Budaya Creative 2025 menjadi contoh konkret bagaimana sinergi antara komunitas kreatif, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah dapat menghasilkan sebuah perayaan budaya yang sarat makna. Bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga sebagai ruang edukasi, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan identitas lokal di tengah arus modernisasi dan globalisasi.
Dengan dukungan yang konsisten, festival semacam ini diharapkan mampu menjadi magnet pariwisata budaya yang tak hanya mengangkat nama Pontianak di kancah nasional, tetapi juga menginspirasi kota-kota lain di Indonesia untuk melakukan hal serupa.
Red/Tim*






