Kilasfakta.com | Pontianak, 16 Maret 2026 – Upaya memperkuat pemberdayaan masyarakat di Kota Pontianak terus didorong melalui dialog terbuka yang melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan elemen masyarakat. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kota Pontianak ini menghadirkan Wali Kota Pontianak, Kapolresta Pontianak, para camat serta lurah se-Kota Pontianak.
Dialog tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan terkait strategi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan di Kota Khatulistiwa. Salah satu peserta yang turut memberikan pandangan dalam kegiatan itu adalah pakar hukum dan kebijakan publik, Dr. Herman Hofi Munawar.
Dalam keterangannya kepada awak media, Herman Hofi menilai bahwa Kota Pontianak saat ini tidak hanya melakukan pembenahan dari sisi pembangunan fisik, tetapi juga mulai memperkuat pembangunan mentalitas masyarakat.
Menurutnya, melalui visi pembangunan bertajuk “Menenun Asa”, Pemerintah Kota Pontianak bersama berbagai elemen masyarakat berupaya memperkuat komitmen untuk mewujudkan Pontianak Hebat melalui optimalisasi pemberdayaan masyarakat.
“Bukan sekadar membangun beton dan aspal, fokus utama transformasi ini adalah pembangunan manusia. Kemandirian jiwa warga menjadi fondasi utama bagi kota yang dinamis dan kompetitif di tengah arus ekonomi global dan pesatnya kemajuan teknologi,” ujarnya.
Herman menegaskan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut masyarakat untuk tidak lagi bersikap pasif terhadap dinamika pembangunan. Masyarakat, kata dia, harus mampu bertransformasi dari sekadar penonton menjadi pelaku utama pembangunan di daerahnya sendiri.
Dalam perspektifnya, pemberdayaan masyarakat tidak boleh lagi dipandang sebagai slogan seremonial tanpa makna. Sebaliknya, pemberdayaan harus dimaknai sebagai proses perubahan cara berpikir masyarakat dari ketergantungan menuju kemandirian.
“Pemberdayaan adalah tentang bagaimana kita mengubah cara berpikir warga dari ketergantungan menjadi kemandirian, serta mengubah potensi yang tersembunyi menjadi aksi nyata,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi sumber daya melalui inovasi, bukan sekadar bekerja keras tanpa arah. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui penguatan keterampilan dan kemampuan masyarakat menjadi faktor yang sangat penting.
“Fokus utama harus pada peningkatan skill dan kapasitas masyarakat agar mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tambahnya.
Selain itu, Herman menilai bahwa paradigma pembangunan juga harus menempatkan masyarakat sebagai subjek utama perubahan, bukan sekadar objek pembangunan. Pendekatan ini diyakini dapat memperkuat partisipasi publik dalam proses pembangunan kota.
Dialog yang berlangsung tersebut, menurutnya, menjadi jembatan bagi berbagai pihak untuk menyatukan gagasan dan strategi. Inovasi dari kalangan akademisi, kebijakan dari pemerintah, dukungan sektor swasta, serta kearifan lokal masyarakat diharapkan dapat berjalan dalam satu frekuensi demi kemajuan kota.
Sejumlah indikator pemberdayaan masyarakat, lanjut Herman, mulai terlihat di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Salah satunya terlihat dari perkembangan sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) di lingkungan permukiman yang mulai mengalami peningkatan kualitas produk dan standar usaha.
“UMKM di gang-gang kecil mulai naik kelas dengan standarisasi produk yang lebih baik. Pertumbuhan kafe dan warung yang semakin marak juga menjadi indikator bergeraknya roda perekonomian masyarakat,” ungkapnya.
Di sisi lain, semangat masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal sebagai identitas Kota Pontianak juga dinilai semakin menguat. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga pada kesadaran sosial dan budaya masyarakat.
Herman menambahkan bahwa ukuran kemajuan sebuah kota tidak semata-mata dilihat dari kemegahan infrastruktur atau gedung pencakar langit, melainkan dari tingkat kemandirian dan kesejahteraan masyarakatnya.
“Ke depan, kejayaan Pontianak tidak lagi diukur dari kemegahan gedungnya, tetapi dari seberapa berdaya dan sejahtera warganya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung sapaan khas yang sering terdengar dalam berbagai kegiatan masyarakat di Kota Pontianak, yakni “Apa kabar, Budak Pontianak?”.
Menurutnya, sapaan tersebut bukan sekadar basa-basi, tetapi merupakan simbol ajakan kepada seluruh warga untuk bergerak bersama membangun kota.
Herman juga menilai keberadaan LPM memiliki posisi yang sangat strategis sebagai mitra pemerintah daerah dalam memperkuat program pemberdayaan masyarakat.
“Keberadaan LPM sangat strategis sebagai mitra Pemkot Pontianak untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat. Sinergi dengan seluruh organisasi perangkat daerah di Kota Pontianak menjadi kunci utama dalam memperkuat fondasi pembangunan berbasis masyarakat,” pungkasnya.
Sumber : Dr Herman HOFI MUNAWAR, SH
Red/gun*






