Daerah  

Nelayan Harian Sebubus Keluhkan Pendangkalan Sungai Liku, Diduga Terkait Erosi Kawasan TWA Pascakebakaran TA 2015

Kilasfaktaterkini.com | SAMBAS  – Nelayan harian di Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, mengeluhkan pendangkalan Sungai Liku yang dinilai mengganggu aktivitas transportasi perairan masyarakat setempat. Sungai yang dahulu menjadi jalur lalu lintas nelayan itu kini mengalami pendangkalan akibat endapan pasir yang diduga berkaitan dengan erosi dari kawasan hutan di sekitar Taman Wisata Alam (TWA) yang terdampak kebakaran pada TA 2015,Keluhan tersebut disampaikan pada Rabu (21/10/2026).

Kondisi Sungai Liku yang sebelumnya diketahui memiliki dasar berlumpur kini disebut mengalami perubahan akibat bertambahnya endapan pasir di sejumlah bagian sungai.

Baca Juga  Pangdam XII/Tpr Tutup Diksarmil dan Pelatihan Manajerial serta Penetapan Komcad SPPI Batch 3 Tahun 2025

Salah seorang nelayan harian Anen, mengatakan, pendangkalan tersebut membuat aktivitas keluar-masuk perahu bermotor milik nelayan tidak lagi berjalan lancar seperti dahulu.

Menurutnya, nelayan terkadang harus menunggu air laut pasang agar perahu dapat melintasi bagian sungai yang dangkal.

“Sekarang aktivitas lalu lintas nelayan tidak seperti dahulu. Terkadang, untuk keluar maupun masuk, kami harus menunggu air laut pasang terlebih dahulu agar perahu bisa melintasi Sungai Liku,” ungkap masyarkat nelayan.

Kondisi ini dikhawatirkan semakin menyulitkan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada aktivitas perikanan dan transportasi sungai, terutama ketika permukaan air sedang surut.

Baca Juga  Ringankan Beban Warga, Bhabinkamtibmas Polresta Pontianak Bagikan Beras dan Minyak Goreng

Masyarakat Kecamatan Paloh berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi kawasan hutan yang terdampak kebakaran tersebut, termasuk melalui langkah rehabilitasi dan pemulihan vegetasi di kawasan yang mengalami kerusakan.

Selain berdampak terhadap kondisi lingkungan, kawasan yang kini ditumbuhi semak belukar dan alang-alang juga dikhawatirkan rentan mengalami kebakaran kembali saat musim kemarau tiba.

Ia berharap rehabilitasi hutan dapat dilakukan melalui penanaman tanaman yang sesuai dengan kondisi kawasan serta memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Dengan demikian, upaya pemulihan lingkungan diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan perekonomian warga.

Baca Juga  Polda Kalbar Ungkap 9 Kasus Narkoba, Sita 86,189 Kg Sabu dan 54,801 Ribu Butir Ekstasi

Menurutnya, pelibatan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan kawasan juga penting agar warga memiliki peran aktif dalam menjaga kelestarian Taman Wisata Alam dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Masyarakat berharap adanya perhatian dan langkah nyata dari pihak terkait untuk menelusuri penyebab pendangkalan Sungai Liku, memulihkan kawasan hutan yang terdampak, serta menjaga agar sungai tetap dapat dimanfaatkan sebagai jalur aktivitas nelayan dan masyarakat sekitar.

(Tim/Sam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *